Sabtu, 26 Mei 2012

HIKMAH


Keutamaan Hidup Bertetangga

Oleh: Dr HM Harry Mulya Zein
 
"Barang siapa beriman kepada Allah, dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya". (HR Bukhori)
Berbuat baik kepada tetangga menjadi sangat penting dalam ajaran Islam. Hadis di atas menyiratkan bahwa setiap umat Islam diwajibkan untuk terus berbuat baik kepada tetangga dengan menolongnya jika mereka meminta pertolongan, membantunya jika mereka meminta bantuan. Sebagai agama rahmatan lilalamin, dalam berbuat baik kepada tetangga kita diwajibkan untuk tidak memandang dari segi sosial dan suku.

Sebuah firman Allah disebutkan: “Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, keluarga, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga jauh” (QS Al-Nisa (44): 36).

Syekkh Ahmad al-Sadani dalam “Sajian Ruhani Penyejuk Iman (10 resep hidup mulia berdasarkan Al -Quran” menuliskan Sabda Rasulullah SAW: “Tahukan kalian apa hak tetangga? Jika ia meminta bantuanmu, bantulah. Jika ia mendapat musibah hiburlah. Jika ia mendapat kebaikan ucapkanlah selamat keapadanya. Jika ia ditimpa musibah maka hiburlah. Jika ia meninggal maka antarkan jenazahnya.”

Islam memang agama yang luhur dan suci. Keluhuran itu diwujudkan dalam ajaran-ajaran yang suci dan selalu berbuat baik. Sebuah hadis Rasulullah juga melarang jika kita memiliki makanan namun tidak cukup maka tidak boleh dibawa keluar dari rumah, terlebih diperlihatkan ke tetangga.

“Jika kamu membeli buah-buahan hadiahkanlah sebagian kepadanya. Jika tidak mungkin menghadiahkan sebagiannya bawalah masuk buah-buahan itu ke rumahmu secara diam-diam. Jangan biarkan anakmu membawa buahnya itu keluar sehingga anak tetanggamu menangis karena menginginkannya. Apakah kalian memahami apa yang aku katakan? Hanya segelitir orang yang dapat memenuhi hak tetangga yaitu mereka yang dirahmati Allah.”


Begitu tinggi nilai-nilai Islam mengajarkan penganutnya untuk memanusiakan tetangga, siapapun mereka. Untuk mengangkat derajat tetanga. Apapun agama mereka. Sebagai contoh, Islam menganjurkan kepada kita untuk tidak membangun rumah lebih tinggi daripada rumah tetangga sehingga menutup lubang udara kecuali atas izinnya dan tidak mengganggunya dengan bau kotoranmu, tetapi hendaklah kita membuangnya.

Dalam sebuah kisah yang ditulis dalam Kitba Al-Kaba’ir tentang Malik bin Dinar, tokoh sufi. Pada kisah itu ditulis Malik bin Dinar memiliki tetangga seorang Yahudi. Orang Yahudi itu membuat kamar mandi bersebelahan dengan dinding kamar mandi tidur Malik bin Dinar.

Dinding kamar mandi itu rusak sehingga setiap hari kotoran dan najis masuk ke dalam rumah Malik bin Dinar. Setiap hari pula Malik bin Dinar membersihkan rumahnya dan tidak pernah mengatakan apa pun kepada tetangganya.

Akhirnya tetangga itu mengetahui sehingga merasa bersalah lalu mendatangi Malik dan berkata, “Aku telah sering mengganggumu, tapi mengapa kamu bersabar?”
Malik bin Dinar menjawab, “Karena Nabi SAW, berwasiat kepada kami tentang tetangga sehingga kami mengira bahwa tetangga berhak mendapat waris.” orang Yahudi itu akhirnya masuk Islam dan sangat taat.

HIKMAH

Menjaga Diri dari Sifat Serakah

REPUBLIKA.CO.ID, 
Oleh: Prof Yunahar Ilyas

Pagi itu beberapa orang berkerumun di Balai Desa Qudaid, pinggir kota sebelah utara Makkah. Seorang laki-laki dengan tergesa-gesa menyampaikan satu pengumuman: “Barang siapa yang berhasil membawa Muhammad hidup atau mati ke Makkah, akan mendapatkan hadiah seratus ekor unta betina muda.”

Sayembara itu diadakan oleh para pembesar Quraisy setelah mereka putus asa tidak bisa menemukan Muhammad. Mereka telah mencarinya ke mana-mana, bahkan sampai ke bukit Tsur, sebelah selatan Makkah, namun mereka tak menemukannya.

Mendengar pengumuman itu, Suraqah bin Malik al-Madlaji, bertekad memenangkan hadiah itu. Segera dia menyusun strategi. Tak lama, datang seseorang ke balai desa menyatakan bahwa belum lama berselang dia bertemu dengan tiga orang di tengah jalan. Dia yakin itulah Muhammad, Abu Bakar, dan seorang penunjuk jalan.

Dalam hati Suraqah gembira dengan petunjuk itu, tetapi untuk mengecoh yang lain dia pura-pura menolaknya. “Tidak mungkin,” kata Suraqah tegas. Mereka adalah Banu Fulan yang tadi lewat di sini mencari unta mereka yang hilang.” Tampaknya mereka lebih percaya Suraqah daripada orang yang baru datang itu.

Suraqah segera pulang. Menyiapkan seekor kuda dan menyuruh pelayannya membawa kuda itu sembunyi-sembunyi ke lembah. Suraqah segera ke lembah itu, memakai baju besi, menyandang pedang, lalu memacu kudanya. Sebagai seorang pemburu dan pelacak jejak yang berpengalaman, Suraqah segera menemukan jalur yang ditempuh Nabi Muhammad dan Abu Bakar.

Ia pun berhasil melihat jejak Rasul dan Abu Bakar. Suraqah sangat senang, terbayang seratus ekor unta akan menjadi miliknya. Setelah jaraknya cukup untuk memanah, dia ambil busurnya, tiba-tiba tangannya kaku dan tidak bisa digerakkan. Kaki kudanya terbenam ke pasir.

Dia coba menarik tali kekang kuda ke atas, mendorong kuda itu untuk mengumpulkan tenaga agar dapat mengangkat kakinya. Tapi, kudanya tak mampu berdiri. Suraqah berteriak keras: “Hai kamu berdua! Mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia melepaskan kaki kudaku. Aku berjanji tidak akan mengganggu kalian.” Lalu Nabi berdoa, maka terbebaslah kaki kuda Suraqah dari pasir.

Tetapi, karena sifat tamak dan serakahnya, membayangkan seratus ekor unta betina muda, Suraqah mengingkari janjinya. Dia kembali memacu kudanya untuk menyerang Nabi. Namun, tiba-tiba peristiwa semula terjadi kembali, kaki kudanya terbenam lagi di pasir, kali ini lebih dalam.

Suraqah memohon belas kasihan Nabi. “Ambillah perbekalanku, harta, dan senjataku. Aku berjanji akan menyuruh kembali setiap orang yang berusaha melacak kalian di belakangku.”

Nabi segera menjawab permohonan Suraqah, “Kami tidak butuh perbekalan dan hartamu. Cukuplah kalau engkau suruh kembali orang-orang yang hendak melacak kami.”

Kemudian, Nabi berdoa agar kuda Suraqah terbebas dari pasir. Kali ini Suraqah menepati janjinya. Dia pergi meninggalkan Nabi SAW dan Abu Bakar. Sebelum pergi dia kembali mengulangi janjinya, “Demi Allah. Saya tidak akan mengganggu tuan-tuan lagi.”

Belajar dari pengalaman, sebagai seorang Muslim, marilah kita menjaga diri kita dari sifat tamak dan serakah. Keserakahan justru akan membuat kita celaka dan sengsara. Wallahu a’lam.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/05/19/m485ce-menjaga-diri-dari-sifat-serakah